TRENDING POST / GLOBAL — Tahun 2019 menandai tonggak sejarah ilmu pengetahuan ketika Event Horizon Telescope (EHT) ,kolaborasi global yang didukung NASA dan lembaga internasional merilis citra pertama black hole di pusat galaksi M87. Untuk pertama kalinya, manusia “melihat” jejak monster kosmik yang selama ini hanya hadir dalam persamaan matematika dan simulasi.
Namun jauh sebelum teleskop radio dan superkomputer bekerja, Al-Qur’an telah menghadirkan deskripsi kosmik yang memantik perenungan. Dalam Surat At-Takwir ayat 15–16, Allah berfirman:
فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ الْجَوَارِ الْكُنَّسِ
“Maka Aku bersumpah demi bintang-bintang yang bersembunyi; yang beredar cepat dan menyapu.”
(QS. At-Takwir: 15–16)
Ayat ini sejak lama ditafsirkan ulama sebagai fenomena langit yang unik, dan pada era modern kerap dikaitkan secara reflektif, bukan konklusif dengan objek kosmik ekstrem seperti black hole.
Membedah Istilah Al-Qur’an: Bahasa Langit yang Menggugah Sains
Para mufasir klasik menekankan kehati-hatian dalam penafsiran kosmik. Namun, sejumlah ilmuwan dan cendekiawan Muslim kontemporer mengajak pembaca merenung pada kekayaan bahasa Al-Qur’an:
Al-Khunnas — yang bersembunyi/tidak tampak
Black hole tidak memancarkan cahaya; ia “tak terlihat”, dikenali dari efek gravitasinya pada lingkungan sekitar. Makna “tersembunyi” ini sejalan secara konseptual, tanpa harus dipaksakan sebagai identifikasi tunggal.
Al-Jawāri — yang bergerak/beredar cepat
Objek kosmik ekstrem beredar pada orbit galaksi dengan dinamika tinggi. Istilah ini menegaskan gerak teratur namun dahsyat di angkasa.
Al-Kunnas — yang menyapu
Black hole dikenal memiliki tarikan gravitasi sangat kuat yang “menyapu” materi di sekitarnya. Sekali lagi, ini korespondensi maknawi, bukan klaim verifikasi literal.
Catatan penting: Dalam metodologi ilmiah, kesesuaian makna tidak otomatis berarti pembuktian. Ia jembatan dialog antara wahyu dan sains, bukan garis finis.
Sains Modern: Apa yang Kita Ketahui Tentang Black Hole
Einstein (1915) melalui Relativitas Umum memprediksi kelengkungan ruang-waktu ekstrem.
EHT (2019 & 2022) memvisualkan bayangan horizon peristiwa (M87* dan Sagittarius A*), mengonfirmasi prediksi relativistik.
Black hole tidak “menghisap segalanya” secara acak; ia mengikuti hukum fisika, dengan pengaruh signifikan pada jarak dekat.
Dengan demikian, sains memberi mekanisme, sementara Al-Qur’an memberi makna dan dorongan kontemplatif.
Wahyu dan Akal: Bukan Kompetisi, Melainkan Dialog
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir dan mengamati. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Dan firman Allah:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi … terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)
Pesannya jelas: iman tidak mematikan nalar, dan sains tidak harus meminggirkan iman.
Refleksi Akhir
Apakah At-Takwir 15–16 secara definitif berbicara tentang black hole? Ilmu tafsir mengajarkan kehati-hatian. Namun ayat-ayat kosmik Al-Qur’an terbukti melampaui zaman, membuka ruang tafakur yang relevan ketika sains terus maju.
Di titik ini, sains menyusul, bukan menyalip wahyu. Bukan untuk “membuktikan” Al-Qur’an karena wahyu tidak bergantung pada validasi laboratorium ,melainkan untuk menguatkan rasa takjub manusia pada keteraturan semesta.
Masya Allah.
Sumber & Rujukan Utama :
Al-Qur’an: QS. At-Takwir (15–16); QS. Ali ‘Imran (190)
Hadis: HR. Ibnu Majah tentang kewajiban menuntut ilmu
Sains: Publikasi Event Horizon Telescope (2019, 2022); Relativitas Umum Einstein
Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi (pendekatan klasik & kehati-hatian metodologis)